Solo Traveling Rani ke Eropa 2024 - Seri 1: Mengurus Visa Schengen
Setelah tujuh tahun berlalu sejak aku terakhir kali menginjakkan kaki di tanah host country-ku selama program AFS Indonesia Jerman 2016 - 2017 (cielah), akhirnya aku memutuskan untuk... mengunjungi host country & host family-ku lagi tahun ini!
Senang dan bangga banget dengan diriku sendiri, mengingat perjalanan ini 100% kubiayai sendiri. Sejujurnya ini bukan keputusan yang mudah karena aku merasa bahwa sebagai orang dewasa baru (ceilah), aku juga merasakan tekanan eksternal untuk KPR rumah, nabung nikah, dan lain-lain. Pasti aku pikir-pikir, lah, sebelum memutuskan berangkat.
Maju-mundur ngurusnya, tapi akhirnya gas!
Aku akan menulis beberapa versi, dan inilah versi pertama dari perjalananku: Ngurus Visa. Aku akan sangat terbuka saat menulis ini, karena sebagai orang yang mengurus visa-nya sendiri TANPA AGEN (bangga banget), aku ingin membantu teman-teman yang mungkin juga mengalami hal yang sama.
Enjoy.
Bagian 1. Background & Rough Itinerary
Tujuan utama perjalananku adalah Jerman, di mana aku ingin masuk melalui Prancis (1 hari stay) dan keluar melalui Amsterdam (1 hari stay). Setelah Amsterdam, rencananya aku akan mampir transit di Abu Dhabi (pakai visa transit under 48 jam).
Kenapa tiga negara ini (+Abu Dhabi, UAE)?
Gampangnya, sih, karena:
- Aku ingin mengunjungi host family-ku di Hamburg dan Luneburg setelah tujuh tahun gak nengok (terakhir ketemu mereka tahun 2017)... tapi tiket pesawat lebih murah kalau masuk lewat Prancis dan keluar via Belanda. Jadi sekalian dibawa jalan aja.
- Walaupun sempat tergoda untuk masuk via negara-negara seperti Yunani, Swedia, atau Polandia, lagi-lagi, tiket pesawatnya lebih pricey. Toh sepertinya negara yang akan aku kunjungi terus jika ke Eropa Barat adalah Prancis. Apalagi karena aku belum pernah foto dengan proper di depan Menara Eiffel (ini cerita yang rada lucu, sih, nanti kapan-kapan kuceritakan kenapa aku sudah dua kali ke Prancis, tapi belum pernah foto di Eiffel).
Kenapa akhirnya aku memutuskan berangkat tahun ini?
Sebenarnya sudah lama mau berangkat, tapi cenderung menunda-nunda. Sebagaimana anak muda pada umumnya (ceile), rata-rata pada mau hemat, kan. Dibanding traveling, mending dipakai buat nabung rumah atau hal lain dulu.
Tapi, tahun 2023 lalu, tahu-tahu aku merasa uangku sayang juga kalau disimpan terus, padahal keluarga dan sahabat juga ya berjalan terus usianya. Host dad dan host grandpa-ku sendiri sudah berpulang di sekitar tahun 2020 - 2021, dan kurasa aku gak mau melewatkan "berpulangnya" orang-orang lain lagi tanpa menambah momen. Jadi, berbekal travel fair di Mall Kota Kasablanka, aku pun memesan tiket pesawat PP. Bismillah.
Ngomong-ngomong, sebelum melanjutkan proses ini, aku mau disclaimer dulu bahwa aku akan berangkat sendiri (solo trip) dengan uangku sendiri. Karena aku masih kaum mendang-mending, beberapa rekomendasi di blog ini sepertinya ditujukan untuk travel yang "tidak luxury" (kalau teman-teman preferensi liburannya beda (seperti misalnya bawa anak atau keluarga), mohon di-adjust sendiri, ya, rekomendasiku ini!).
Bagian 2. Proses Pengurusan Visa Schengen
Untuk pengurusan visa transit Abu Dhabi akan aku susulkan di blog versi 2. Tungguin, ya!
Untuk proses pengurusan visa Schengen turis yang melalui tiga negara, kita bisa apply di kedutaan negara mana pun, tetapi setahuku sebaiknya mengurus dari 1) negara yang pertama kali dikunjungi, atau 2) negara yang paling lama dikunjungi.
Pilihanku tentu saja nomor dua, mengingat aku akan dapat surat sponsor dari host family-ku kalau aku apply dari Jerman. Karena aku apply dari Jerman, berikut step-step yang kulakukan (dari awal sampai akhir):
Proses Pertama: Beli Tiket Pesawat
Budget: 11.5 - 12.5 juta
Waktu: Dilakukan di 8 bulan sebelum tanggal keberangkatan.
Hal pertama yang kulakukan adalah beli tiket pesawat. Aku beli tiket pesawat PP lewat travel fair yang dilaksanakan di bulan Oktober 2023 di suatu mall. Tiketku sendiri ada di tanggal 13 Juni 2024, di mana itu berarti aku sudah beli tiket kira-kira 8 bulan sebelum tanggal keberangkatan.
Saat itu, aku udah menyiapkan uang cash, tetapi karena travel fair-nya ngasih promo besar (15% atau 20%, aku lupa) kalau pakai PayLater platform, aku pun membayar menggunakan PayLater. Enak juga, sih, dipikir-pikir. Selain lebih murah (bahkan setelah dipotong fee admin), lebih enak juga jika aku pegang cash lebih banyak. Hahaha.
Additional note 02/06: Setelah sekian bulan menjadi pengguna PayLater Traveloka, sejujurnya aku sangat menyarankan penggunaan paylater ini! Entah kenapa, walaupun aku sudah menghabiskan beberapa juta untuk menyiapkan solo traveling ini, rasanya uangku nggak habis terlalu banyak. Mungkin karena dengan menggunakan paylater, ada bagian dari dalam diriku yang tanpa sadar jadi menabung, HAHAHA. Tapi, mohon disesuaikan lagi dengan kebiasaan teman-teman semua, ya. Aku sendiri menggunakan PayLater dengan catatan kalau aku harus bayar lunas di detik ini, aku udah punya uangnya untuk langsung bayar.
Total harga yang kubayarkan untuk pesawat kira-kira 11.3 juta PP dengan itinerary:
Berangkat: Jakarta -> Transit di Ho Chi Minh (4 jam) -> Paris -> Lanjut bus ke Hamburg.
Pulang: Hamburg -> Amsterdam -> Transit di Abu Dhabi (20 jam, sekalian liburan) -> Jakarta.
Menurutku, 11 juta termasuk murah dengan pertimbangan aku dapat tiga negara sekaligus (walaupun sepertinya ada yang lebih murah lagi kalau pesan lewat agen, ya? Nggak tahu deng). Kalau dihitung dengan total perjalanan bis (Flixbus), kira-kira pengeluaranku untuk transportasi pesawat & bus ada di kisaran 12.5 - 13.5 juta (untuk perjalanan dalam negara Eropa, akan aku update lagi di blog terpisah).
Proses Kedua: Mendaftarkan Diri untuk Book Visa
Budget VFS (VFS only): 450.000
Waktu: Delapan bulan sebelum tanggal keberangkatan
Karena aku memutuskan apply via Jerman, aku membuat janji temu visa VFS melalui link ini:
visa.vfsglobal.com/idn/id/deu/login
Aku membuat janji temu ini di bulan yang sama dengan aku beli tiket pesawat, mengingat aku orangnya well-prepared (si paling well-prepared). Hal ini kulakukan karena aku tahu janji temu VFS itu padat banget! Booking Oktober 2023, jatah janji temu yang masih banyak kosongnya hanya di Januari 2024.
Aku akhirnya memilih tanggal 15 Januari 2024 sebagai tanggal janji temuku dengan beberapa pertimbangan:
- Ini adalah kali pertamaku mengurus visa sendiri. Kalau ternyata ditolak, aku masih punya slot waktu lebih untuk re-apply.
- Berdasarkan rekomendasi VFS, visa itu sebaiknya diajukan secepat mungkin, tetapi tidak lebih cepat dari 180 hari sejak tanggal keberangkatan. Ini aku tampilkan screenshot-nya.
Mengingat aku rencana berangkat tanggal 13 Juni, 15 Januari sebenarnya sudah masuk ke hitungan "6 bulan" (180 hari) sebelum aku berangkat.
- Prancis: 1 hari, AirBNB.
- Jerman: 8 hari. Semua hari kuhabiskan di apartemen dan rumah host family-ku.
- Belanda: 1 hari, AirBNB.
- Kalau kalian belum yakin mau tinggal di mana (termasuk aku pun juga begitu), pastikan kalian perhatikan policy AirBNB masing-masing. Aku memilih penginapan yang bisa free cancelation hingga bulan Juni 2024 (tanggal keberangkatanku).
- AirBNB memfasilitasi pembayaran yang nggak langsung cash (dua kali pembayaran). Pastikan pakai ini kalau teman-teman butuh, ya. Seluruh pembayaranku sendiri pakai VISA (kartu debit bank Jenius biasa).
- Saranku, sebisa mungkin pilih AirBNB yang memperbolehkan early check in atau at least titip koper di pagi hari. Sebagai contoh, flight-ku dari Jakarta tiba di jam 6 pagi waktu Paris, sementara waktu check in adalah jam 12 siang. Biar nggak buang-buang waktu, at least kalian jadi bisa titip koper dulu di AirBNB (jadi bisa langsung jalan). Bisa juga, sih, titip koper di bandara, tetapi ada charge terpisah (seingatku di kisaran Rp300.000 - Rp600.000/hari).
- Perlu ditranslate ke Bahasa Inggris. Aku menggunakan jasa Schoters reguler (3 - 5 hari kerja) dengan total Rp99.000 (ya anggap Rp100.000,00). Karena aku kirimkan via JNE, aku juga bayar ongkir di kisaran Rp15.000.
- Kartu Keluargaku sendiri ada di rumah orangtuaku di luar pulau, jadi perlu dikirimkan dulu versi aslinya ke Jakarta. Yang kirim adalah orangtuaku, jadi aku kurang tahu harganya berapa, hahaha.
- Sebelum dikirim ke Jakarta, menurut dokumen yang kubaca, Kartu Keluarga harus diperbarui paling lambat 6 bulan sebelum trip. Walaupun aku agak sangsi dengan aturan ini, supaya mengurangi kemungkinan visa-ku ditolak, akhirnya KK-ku diperbarui juga (padahal nggak ada yang berubah isinya).
Seperti yang bisa dilihat, aku menuliskan itinerary-ku dengan cukup lengkap. Di bawah itinerary ini, aku menjelaskan pekerjaanku sekarang apa, berapa pemasukanku, dan surat pernyataan bahwa aku sanggup membiayai trip-ku sendiri (nggak akan menggelandang!). Aku juga nge-list down surat-surat apa yang kusertakan di dalam application visa-ku:
- Asuransi (udah kuceritakan di atas)
- Foto biometric (udah kuceritakan juga di atas).
- Paspor host family-ku. Somehow, aku nggak kepikiran minta foto paspor host family-ku, padahal ternyata ini diminta (paspor ini sendiri memang nggak ada di list dokumen VFS). Di titik ini, aku sempat (agak) panik karena aku yakin host family-ku belum bangun (di Eropa pasti masih pagi dan host sister-ku kebo banget). Aku iseng nge-missed call host-sisterku (padahal nggak boleh dilakukan sebenarnya di VFS), dan ternyata dia bangun!
- Pesawat: 11.3 juta
- AirBNB: 2 juta
- VFS: 450.000
- Asuransi 1: 250.000
- Asuransi 2: 600.000
- Translate Kartu Keluarga: 115.000
- Visa: 1.350.000
- Administrasi (Print, Fotokopi): 350.000
- Foto biometric (2x): 75.000
- [Kalau mau ngehitung ongkir dan transportasi lain] Transportasi lain: 100.000
Comments
Post a Comment