Solo Traveling Rani ke Eropa 2024 - Seri 2: Mengurus Itinerary & Visa Transit Abu Dhabi

 Hi, teman-teman!

Setelah nge-post seri blog pertama untuk solo traveling ke Eropa 2024 (fokus ke persiapan mengurus visa Schengen. Bisa ditemukan di sini), aku langsung memulai draft untuk seri kedua, yaitu mengurus itinerary dan visa transit Abu Dhabi. 

Dua proses ini baru kulakukan di bulan Mei 2024. Kenapa?

  1. Aku adalah tipe orang yang memilih mengerjakan hal "terpisah-pisah" (lompat-lompat). Mengerjakan semuanya dalam satu waktu membuatku overwhelmed. Karena proses ngurus tiket pesawat dan visa aja udah cukup melelahkan (kulakukan di antara bulan Oktober 2023 - Januari 2024), aku memutuskan untuk mengerjakan itinerary dan visa Abu Dhabi ini di dekat-dekat perjalananku. 
  2. Kegiatanku sehari-hari cukup menyibukkan! Sekilas info, selain karyawan kantoran, aku juga ngejalanin bisnis kecil-kecilan, hobi mengajar Bahasa Inggris, dan persiapan S2 (kenapa aku mention di sini? Karena ini adalah bridging untuk post blog-ku nanti. Baca, ya, nanti kalau udah kutulis! Entah kapan, sih, hahaha). 

Silakan dibaca, enjoy!

Part 1: Mengurus Visa Transit Abu Dhabi (UAE)

Sejujurnya, aku sempat bingung banget bagaimana mengurus visa transit Abu Dhabi untuk transit selama 20 jam (Catatan: aku akan tiba dari Amsterdam ke Abu Dhabi di jam 6 pagi, lalu lanjut ke Jakarta di jam 3 pagi). 

Selain bingung, aku juga sempat merasa sedikit menyesal karena setelah selesai membeli tiket pesawat (di bulan Oktober 2023), aku baru tahu kalau transit via Dubai akan jauh lebih gampang ngurusnya (dengan catatan berangkat naik pesawat Qatar Airways). Bisa urus di website-nya aja!

Sayangnya, karena aku udah telanjur beli tiket pesawat non-refundable yang transit di Abu Dhabi menggunakan airline Etihad, mau nggak mau aku harus mencari caranya sendiri. Nasi sudah jadi bubur, ya telan aja. 

[Kalau penasaran caranya gimana, bisa skip ke dua paragraf setelah ini. Kalau mau baca perjalananku sampai ketemu cara ngurusnya, boleh baca paragraf ini] Setelah menyempatkan diri searching di Google dan malah bertambah bingung, aku memutuskan untuk datang ke VFS Kuningan City lagi (kali ini tanpa bikin janji temu, karena niatnya cuma tanya-tanya. 

Aku ke VFS ini kira-kira di bulan April). Sayangnya, setelah tiba di VFS, ternyata VFS adalah partner dari Qatar Airways yang cuma melayani visa transit untuk Qatar Airline dan turun di Dubai. Aku diarahkan untuk datang ke agen yang letaknya tepat di depan VFS (warna merah, aku lupa namanya), tapi saat konsultasi, sepertinya mbaknya juga nggak paham (maaf). Mbaknya mengarahkan aku ke pembuatan visa biasa di harga Rp2.000.000 (padahal transit nggak sampai 24 jam). Akhirnya, dibanding sotoy dan malah salah, aku memutuskan pulang lagi. 

Aku baru ketemu caranya setelah searching untuk yang kedua kali. Lewat sini, guys: UAE Visa (visaonline.ae)

Ini tampilannya: 



Bisa dilihat, ada dua transit visa yang bisa diurus: Versi 48 jam dan 96 jam. Karena aku cuma akan transit selama 20 jam, aku pilih yang pertama. 

Sebelum apply, aku baca dulu, tuh, berapa lama proses visanya. Karena sepertinya nggak lama, akhirnya aku baru apply hari Minggu, tanggal 2 Juni 2024 (kira-kira sepuluh hari sebelum keberangkatanku). Ngomong-ngomong, kita hanya bisa apply di satu bulan sebelum tanggal masuk Abu Dhabi. 

Nggak usah khawatir. Kalau mepet pun sebenarnya prosesnya cepat, kok. Yang dibutuhkan cuma: Pengisian data biasa, foto paspor, foto biometric, dan bukti perjalanan transit (file PDF tiket). Aku sendiri submit di tanggal 2 Juni dan sudah dapat visanya di tanggal 3 Juni 2024 (satu hari kerja, 24 jam).

Semuanya dilakukan online, nggak perlu kirim apa-apa. Biayanya di 59 AED (udah include VAT), alias Rp275.000. Untung aku nggak langsung proceed beli visa di dekat VFS seharga 2 juta, hahaha. 

Part 2: Menyusun Itinerary (Menghitung Uang yang Perlu Kubawa)

Catatan: Angka yang tertera di part 2 ini adalah angka perkiraan, bukan angka asli yang kukeluarkan. Angka aslinya akan kutulis di series selanjutnya, ya, alias saat aku sudah benar-benar di sana dan mengeluarkan uang itu. 

Aku baru menyusun itinerary kira-kira akhir Mei 2024. Hal ini harus kulakukan karena aku perlu memesan tiket bis/kereta untuk perjalanan antarnegara (contoh: Dari Prancis ke Jerman), juga karena aku perlu estimate berapa tempat wisata yang dapat kukunjungi (dan memperkirakan berapa harganya, alias uang yang perlu kusiapkan) (ya, masa nggak disiapin?).

Menurutku, itinerary termudah yang kubuat adalah itinerary Prancis, karena aku udah punya gambaran beberapa yang mau kukunjungi. Berikut tempat-tempat yang mau kukunjungi (masih rencana): 

Itinerary 1. Paris

  • Menara Eiffel. Tujuanku ke Menara Eiffel adalah supaya aku puas foto-foto. Aku aware bahwa copet cukup ramai di daerah ini (mungkin rawan diganggu kalau aku foto sendiri berbekal tripod), jadi aku memutuskan untuk menyewa jasa fotografer lokal, sekalian untuk nemenin jalan-jalan dan memastikan fotonya bagus. Total harganya di Rp500.000.
  • Champs Elysees. Ini, sih, pengen jalan-jalan aja. Oh iya, sepertinya aku juga akan mengunjungi beberapa spot tempat menara Eiffel terlihat dari jauh, seperti Galeries Lafayette. 
  • Montmartre. Daerah ini adalah tempat yang akan selalu kukunjungi kalau aku kebetulan di Paris. Selalu, mulai dari tahun 2017 lalu, sekarang di tahun 2024, dan nanti kalau aku ada rezeki ke Paris lagi. Montmartre adalah daerah yang cantik banget dan bersejarah. Film favoritku #1, Amelie, latar shooting-nya di sini. Daerah juga ini juga tempat shooting-nya Eiffel I am in Love 2 (yang ratusan tangga itu, lho). 
  • Shakespeare Bookstore. Aku spare 500.000 untuk belanja buku di sini.
  • Sorbonne Universitat. Sebagai penyuka tetralogi Laskar Pelangi, aku harus mampir, dong, ke tempat Ikal kuliah di novel Edensor!
  • Flea market dan beberapa cafe lainnya. Aku spare 500.000 - 1.5 juta untuk ngopi, belanja barang-barang lucu YANG KECIL (supaya nggak berat), sekaligus makan, udah termasuk tips (2 - 5 Euro). Biaya ini belum menghitung biaya makan di tempat-tempat biasa, seperti bakery atau supermarket. 
Aku lanjut membuat itinerary untuk Hamburg dan Amsterdam. Tapi, membuat itinerary untuk dua tempat ini kurasa lebih sulit dari Paris. 

Itinerary 2. Hamburg (dan Jerman)

Untuk Hamburg, aku sendiri sudah pernah mengunjungi sebagian besar tempat wisata di Hamburg (kayaknya semuanya, deh), mengingat aku technically hidupku 1/5-nya di Hamburg dulu pas exchange 2016 - 2017.

Akhirnya, aku cuma berencana shalat Eid Adha tanggal 17 Juni di KJRI Hamburg. Dan, di Jerman, aku nggak berencana ngapa-ngapain selain bertemu teman-teman dan host family-ku. Aku bener-bener cuma akan di rumah aja, sepertinya. Jadi, aku cuma spare 2 juta untuk total 8 hari perjalanan di Jerman. 

Itinerary 3. Amsterdam 

Untuk Amsterdam, itinerary-nya lebih mudah, karena aku tinggal memilih tempat yang belum pernah kudatangi sebelumnya. Saat exchange dulu, selain hal-hal basic seperti ikut bike tour, aku cuma pernah mampir ke Red District (di siang bolong, guys, nggak ada apa-apa), Van Gogh museum, dan ke museum Anne Frank. Berarti aku tinggal pergi ke museum-museum lain seperti Rijksmuseum dan Rembrandt. Melihat plan ini, aku rasa harga tiket museum ada di kisaran Rp500.000,00 - Rp700.000, jadi aku akan spare 1.5 juta untuk museum & tour. 

Tapi, mengingat aku akan dua hari di sini, sepertinya aku butuh agenda lebih. Di titik ini (02/06), aku belum menentukan apa, tapi aku tertarik: Al
  • Short trip ke The Hague, kira-kira 1 juta. 
  • Ikut cheese class, di 500.000.
Ya siapin dulu, lah, ya di maksimal 1.5 juta.  

Itinerary 4. Abu Dhabi
Di liburanku yang terakhir kulakukan di bulan Desember 2023 (baca di sini), aku mengenal satu aplikasi yang bernama Get Your Guide. Di sini, aku bisa ketemu banyak kegiatan maupun aktivitas lain di berbagai negara. 

Mengingat tempat wisata di Abu Dhabi nggak terlalu banyak (banyak, sih, tapi aku kurang familiar) dan transitku cuma 20 jam, akhirnya aku memutuskan untuk: Jalan sendiri di pagi hari (tujuan: 1) Masjid Syeikh Zayid, 2) Mall), lalu ikut Tour Guide di sore - malam hari! Tour Guide ini rencananya adalah barbeque-an di padang pasir, sesi foto, dan nonton pertunjukan tari khas UAE. Total biayanya di Rp1.5 juta.

Aku bersyukur banget tahu trip yang ini karena setelah tur (berakhir di jam 10 malam), dia bersedia mengantarkan aku ke bandara lagi. Nggak kebayang pusingnya berangkat ke bandara sendiri (untuk lanjut ke Jakarta) tengah malam kalau nggak ada fasilitas ini!

Ngomong-ngomong, sebelum berangkat ke kota Abu Dhabi, aku akan ninggalin koperku di bandara (nitip). Aku udah cek sekilas, ada fasilitasnya dengan total harga Rp250.000 (aku baca di sini: Abu Dhabi Airport Luggage Storage From AED 20.00 / Day (usebounce.com).
 
Biaya Lain.
Di luar biaya rekreasi yang sudah kuperkirakan di atas, aku juga harus mempersiapkan biaya lain, seperti:

Satu, tiket bis. Dari dulu, aku selalu pakai Flixbus. Tiketnya bervariasi di 45 - 90 Euro (harga normal), tetapi kalau lagi hoki, bisa sih dapat 10 - 20 Euro (tapi, aku nggak bisa dapat sekarang... dulu pas exchange aku pernah dapat harga segini, tapi itu pun nunggu promo). Ini contoh yang ku-screenshot: 


Aku beli tiketku agak mepet, di tanggal 2 Juni 2024. Harga yang kukeluarkan terbilang normal cenderung mahal (karena aku yakin bisa lebih murah kalau belinya 1 - 2 minggu lalu), yaitu: 
  • Paris - Hamburg: 62.46 Euro (sekitar Rp1.155.000). Harga ini termasuk additional luggage (karena aku bawa koper 20 kg di 5.49 Euro dan juga karena aku book seat Panorama di seat 1 (paling depan, upper deck) seharga 5.99 Euro.
  • Hamburg - Amsterdam: 31 Euro (sekitar Rp591.169). Harga ini juga termasuk additional luggage dan book seat Panorama. 
Note: Aku memutuskan book seat Panorama karena aku akan tiba pagi di kisaran jam 7 - 8, sementara daylight di Eropa saat ini dimulai dari jam 5.45 (lumayan, 2 jam bisa lihat pemandangan dari jendela bis paling depan).

Dua, biaya komunikasi. Aku akan beli SIM Card selama di Europe dua minggu (perkiraan harga di Rp300.000 - Rp500.000), lalu lanjut roaming Telkomsel di Abu Dhabi (300.000). Total berarti maksimal Rp800.000 (harusnya bisa lebih murah). 

Tiga, powerbank. Karena aku akan jalan-jalan sendiri, aku memutuskan beli powerbank dulu di Indonesia dibanding nyasar dan fatal nggak bisa ngehubungi siapa-siapa. Harganya bervariasi lah, ya, aku nggak perlu hitung di sini. 

Sebenarnya, aku juga perlu mempersiapkan transportasi dari bandara ke AirBNB (dan sebaliknya). Namun, kurasa untuk Paris dan Amsterdam bisa pakai transportasi umum, jadi aku nggak terlalu khawatir. Paling biaya ini kugabungkan aja dengan perkiraan transportasi kecil-kecilan lain selama di sana, dengan budget Rp2 juta (walaupun mungkin bisa lebih).


Sejujurnya, aku baru menghitung budget-ku selama di sana setelah menulis blog ini.
  1. Visa Abu Dhabi: Rp275.000
  2. Fotografer lokal Prancis: Rp500.000
  3. Shakespeare Bookstore (buku): Rp500.000
  4. Cafe trips: 1.5 juta
  5. All activities in Germany: 2 juta 
  6. All activities in Amsterdam: 3 juta (ini seharusnya di 1 - 2 juta aja total).
  7. Abu Dhabi guide: 1.5 juta
  8. Penitipan koper Abu Dhabi: Rp250.000
  9. Flixbus: 1.800.000
  10. Komunikasi: Rp800.000 (maksimal).
  11. Transportasi umum & makan lainnya: Rp2.000.000 (maksimal) (beberapa jatah makan udah kuhitung di poin 4, alias cafe trips, jadi harusnya cukup).
Total di Rp14.125.000 (maksimal, hanya perkiraan, bisa lebih murah di kisaran 10 - 13 juta).

*)Sekali lagi, angka di atas ini hanya perkiraan untuk menyusun itinerary, ya. Aku akan tuliskan pengeluaran asliku di series blog lainnya! Kalau ditotal dengan pengeluaranku di seri 1, aku memperkirakan akan keluar di 25 - 30 juta untuk trip selama 2 minggu ini. 

Udah, segini aja. Stay tuned!

Comments

Popular posts from this blog

Solo Traveling Rani ke Eropa 2024 - Seri 1: Mengurus Visa Schengen

Contact Me

Traveling: Pengalaman Jalan-Jalan di Sydney, Australia (7 Hari!)