Posts

Urusan Semesta

Kamu berlalu, meninggalkan saya.  Saya diam, membiarkan kamu. . Saya tidak mau berjalan menuju kamu, apalagi sampai mengejar. Saya tidak mau mengucapkan satu kata pun, apalagi sampai memohon agar kamu tetap tinggal. Saya bahkan tidak mau berdoa agar kamu menoleh ke belakang, apalagi sampai berdoa agar kamu mencintai lagi. . Jika suatu hari di masa depan nanti kamu memang harus kembali, pasti kamu akan menemukan jalan. Menuju saya, menuju kita yang baru. Mengenai tempat, itu urusan Bumi. Mengenai waktu, itu urusan nanti.  . Tapi jika kamu memang tidak bisa kembali, jalan itu akan selalu tertutup. Lalu lama-lama hilang dihisap takdir. Bahkan jika tenaga kamu habis untuk mencari, bahkan jika umur saya habis untuk menunggu.  Mengenai alasan, itu urusan semesta.  Mengenai selanjutnya, bukan urusan kita.  . Kamu tahu kan, bagaimana takdir bekerja?  Yang harus berlalu memang pasti pergi.  Tapi yang ...

Contact Me

Sebenernya profile  dan how to reach me  udah ada di samping kanan dan bawah sih, tinggal baca aja. Tapi ya udahlah. Biar header -nya penuh, aku tulis lagi. . Brief Profile Nama? Narani Widodo ( pen-name, bukan nama asli). Di beberapa akun pribadi pakai nama Rani Sriwidodo (masih bukan nama asli). Panggil aja Rani. Pekerjaan?   Blogger aktif, penulis (ayo baca novel aku), tukang melamun, dan pelajar di sebuah SMA di Bandung (tapi lagi vakum, soalnya lagi jadi pelajar pertukaran di Jerman (AFS 2016-2017)). Cita-cita? Istri raja minyak. . . . Ya enggak atuh.  Cita-cita mau jadi pengusaha cafe , kindergarten teacher  ( although I have no teaching skill at all) , franchisor McDonald's, liburan ke Santorini dan Cannes, tinggal di lantai apartemen paling tinggi yang pemandangannya menghadap ke pemandangan kota, dan foto sama Scots Guard di London dengan pose paling absurd. Hal lain?   I am freakin' po...

Lima Puluh Tahun

Aku, Supriyadi. Usia tiga puluh tahun. Bekerja sebagai pengasuh lansia sekaligus sopir bagi seorang kakek miliuner penderita sakit ginjal. Nama kakek itu adalah Antoni. . Rumah Pak Antoni--rumah tempatku bekerja--sangatlah luas. Aku sudah bekerja di sana selama sepuluh tahun, namun aku masih belum mengenali sudut-sudut rumah itu dengan baik. Aku bahkan pernah tersesat di dalamnya.  Selain luas, rumah berlantai lima itu juga megah. Mewah. Dengan lantai marmer berkualitas tinggi, lapisan tirai yang lebih tebal dari harga diri Inem--maaf, aku benci sekali pada pesuruh genit itu--dan karpet beludru dari Turki, rumah peninggalan zaman Belanda itu akan jauh lebih pantas jika disebut sebagai kastil. Istana seorang putri.  Namun, tidak ada putri di dalamnya.  Tidak ada pula ratu.  Pak Antoni hanya menjadi raja sendiri .  . Rumah itu sangat spesial, namun bagian yang paling spesial di sana adalah taman mawar.  Menurut cerita...

Di Kaki Senja

Di kaki senja, aku dan dia selalu bercengkrama, berbagi cerita tentang apa pun. Tentang betapa benci dia pada mata biru yang ia warisi dari ayahnya. Tentang adik bungsuku yang akhirnya tamat SD setelah dua kali tinggal kelas. Tentang ayahnya di Amerika yang tak pernah kembali. Tentang kegemaranku pada debur ombak yang berkejaran. Ah, pokoknya apa pun. Termasuk juga masa depan. Aku, si sederhana yang tak ingin neko-neko ini, hanya memiliki andai-andai yang biasa saja: belajar baik-baik, lulus kuliah, mendaftar jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), punya istri cantik yang bisa memasak ayam rica enak, ikut program KB, dan naik haji. Selesai . Tapi dia tidak begitu. Dia, si cantik dengan jiwa pemberontak dan pikiran yang kompleks itu, memiliki cita-cita yang luar biasa : merantau ke luar negeri, melamar jadi freelancer di National Geography, menerbitkan novel tentang perjuangan seorang relawan di daerah perang, mendirikan sekolah alam, dan mendaki hingga ke puncak Everest. Mung...

Parts of Me That Have Been Missing

I lost so many things. All in the same time.  . First, my grandmother passed away. Kehilangan kakek atau nenek mungkin adalah hal yang gak terlalu menyakitkan. Itu biasa karena selain usia mereka udah tua, beberapa dari kita juga jarang mengunjungi mereka. Palingan kalau libur lebaran aja. Tapi buat aku ini gak biasa. I lived with my grandma for many months   in her home. Waktu dia dirawat, aku salah satu orang yang jagain. Waktu dia mau minum obat, aku sering suapin. Waktu dia jatuh karena stroke, aku salah satu orang yang susah payah ngangkat dia. Aku lagi nonton film berjudul Home waktu tetanggaku tiba-tiba dateng dan nyuruh aku untuk cepet-cepet mandi, terus ke rumah sakit. Aku nanya, "Ada apa, Mbak?" "Gak tahu. Coba aja ke sana. Kayaknya Eyang-mu ada apa-apa." I was so panic. Aku mandi secepet yang aku bisa, terus berangkat ke rumah sakit bareng budeku naik motor. Beberapa hari sebelum itu, aku latihan basket. Makanya kakiku kerasa sakit.  But I...

Waktunya untuk Pulang

Namanya Indy. Dia bidadari dalam balutan seragam pramugari. Terbang setiap hari, melintasi awan dan melesat di antara bintang-bintang. Dia cinta terbang. Cita-cita keduanya adalah tinggal di lapisan tropopause (tempat pesawat biasa melaju). Seandainya maskapai penerbangan tak kasihan, mungkin mereka akan membiarkan Indy bekerja sebagai pramugari siaga 24/7. Indy sendiri malah akan senang (bahkan mungkin tanpa digaji) karena ia benar-benar cinta. Langit telah merebut hatinya. Jiwanya. Pikirannya. Dan, mungkin karena terlalu lama tinggal di langit, ia sampai melupakan bumi.  . Tak hanya terbang di langit, ia juga suka mengudarakan pikiran serta keinginannya. Terutama masalah pilihan hati.  Berkali-kali ia bertemu dengan lelaki, berkali-kali pula ia jatuh hati. Pada pilot, manager bandara, hingga teknisi pesawat (ya, profesi mereka selalu berkaitan dengan 'terbang'). Ia ajak terbang sosok yang ia impikan itu ke langit tertinggi.  Namun sayangnya,...

Sebuah Tragedi

Postingan ini ditulis di atas kereta Lodaya Malam (Solo - Bandung). Sendirian.  Packing adalah kegiatan  nyepak-nyepak i (bahasanya gaul banget) barang seperti baju dan alat mandi sebelum kita pergi, traveling , dll ke dalam koper atau tas. Packing adalah kegiatan yang menurut banyak orang  seru banget, tapi buat aku, sumpah malesi tenan.  Tiap kali packing , aku hanya ngambil baju seadanya. Pokoknya yang ada di lipatan teratas lemari, langsung kulempar ke dalam tas tanpa dilipet lebih dulu. Percaya atau enggak, pas kemah ke Kemuning setahun yang lalu, aku cuma bawa tas ransel satu dan ember (itu pun karena disuruh). Temen-temenku, yang kayak bawa seisi rumahnya, langsung pada heboh.  "RAN, SERIUS KAMU CUMA BAWA ITU?"  "RAN, KAMU BAWA BAJU BERAPA?!"  Dan lain-lain. Pft.  . Aku juga punya satu sifat 'mematikan': Cenderung menyepelekan barang-barang lain tiap packing . Makanya, aku selalu ketinggalan sesuatu ....