Di Kaki Senja
Di kaki senja, aku dan dia selalu bercengkrama, berbagi cerita tentang apa pun. Tentang betapa benci dia pada mata biru yang ia warisi dari ayahnya. Tentang adik bungsuku yang akhirnya tamat SD setelah dua kali tinggal kelas. Tentang ayahnya di Amerika yang tak pernah kembali. Tentang kegemaranku pada debur ombak yang berkejaran. Ah, pokoknya apa pun. Termasuk juga masa depan. Aku, si sederhana yang tak ingin neko-neko ini, hanya memiliki andai-andai yang biasa saja: belajar baik-baik, lulus kuliah, mendaftar jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), punya istri cantik yang bisa memasak ayam rica enak, ikut program KB, dan naik haji. Selesai . Tapi dia tidak begitu. Dia, si cantik dengan jiwa pemberontak dan pikiran yang kompleks itu, memiliki cita-cita yang luar biasa : merantau ke luar negeri, melamar jadi freelancer di National Geography, menerbitkan novel tentang perjuangan seorang relawan di daerah perang, mendirikan sekolah alam, dan mendaki hingga ke puncak Everest. Mung...